DUKUNG PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR KESEHATAN, HUTAMA KARYA TEKEN KONTRAK PEMBANGUNAN RSU ADHYAKSA BALI DI JEMBRANA
JAKARTA – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) resmi menandatangani kontrak pekerjaan Design & Build Pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU) Adhyaksa Bali. Pembangunan fasilitas ini menjadi langkah strategis dalam mendukung penguatan layanan kesehatan, khususnya di wilayah Bali bagian barat dan daerah penyangga. Penandatanganan kontrak dilaksanakan pada Kamis, 12 Februari 2026 di Ruang Rapat Biro Umum Lantai 7 Gedung Utama, Jl. Sultan Hasanuddin No. 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Bagian (Kabag) Prasarana, Sarana dan Rumah Tangga pada Biro Umum Jaksa Agung Muda Pembinaan (Jambin) Afni Carolina, serta dari Hutama Karya diwakili oleh Direktur Operasi II, Gunadi dan Executive Vice President Divisi Gedung, Nyoman Endi.
Pembangunan RSU Adhyaksa Bali berlokasi di Desa Pekutatan, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Rumah sakit ini dirancang sebagai RS Tipe C untuk mendukung penguatan layanan kesehatan serta pemerataan akses pelayanan medis di kawasan Bali bagian barat.
RSU Adhyaksa Bali akan dibangun dengan luas total 16.945,7 m², terdiri dari 5 lantai dan 1 lantai semi-basement. Proyek ini dilaksanakan dengan skema rancang bangun (design & build) dengan waktu pelaksanaan selama 300 hari kalender. Sebagai fasilitas layanan kesehatan, RSU Adhyaksa Bali dirancang untuk menghadirkan layanan medis yang komprehensif, meliputi rawat jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD), rawat inap, serta layanan penunjang seperti laboratorium, radiologi, dan farmasi, termasuk fasilitas pendukung operasional rumah sakit lainnya.
Dari sisi desain, RSU Adhyaksa Bali mengusung konsep Neo Vernakular yang memadukan karakter arsitektur lokal Bali dengan standar rumah sakit modern. Pendekatan ini diterapkan melalui komposisi fasad, pemilihan material bernuansa alami, serta pengaturan zoning ruang yang terstruktur antara area publik, semi publik, privat, dan servis. Konsep tersebut juga dirancang responsif terhadap iklim tropis Bali melalui optimalisasi pencahayaan, kenyamanan ruang, serta dukungan landscape, sehingga bangunan tidak hanya fungsional tetapi juga memiliki identitas yang selaras dengan lingkungan sekitarnya.
Dalam pelaksanaannya, Hutama Karya akan mengerjakan pembangunan gedung beserta pekerjaan pendukung secara menyeluruh, meliputi pekerjaan struktur, arsitektur, façade, landscape, serta utilitas kawasan.
Hutama Karya juga mendorong keterlibatan rantai pasok lokal dalam pelaksanaan proyek, termasuk pemanfaatan tenaga kerja setempat serta kolaborasi dengan pelaku usaha dan UMKM pendukung proyek, seperti penyedia jasa dan distributor material konstruksi. Langkah ini diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar melalui aktivitas konstruksi yang berjalan.
Kepala Bagian (Kabag) Prasarana, Sarana dan Rumah Tangga pada Biro Umum Jaksa Agung Muda Pembinaan (Jambin), Afni Carolina, menyampaikan bahwa pembangunan RSU Adhyaksa Bali merupakan kelanjutan dari tahapan pekerjaan yang telah berjalan sebelumnya. “Pada tahap berikutnya, pelaksanaan proyek akan dilanjutkan dan dipimpin oleh Hutama Karya. Kami meyakini Hutama Karya telah melakukan pembelajaran serta evaluasi dari tahapan sebelumnya, sehingga pelaksanaan pekerjaan dengan waktu 300 hari kalender dapat berjalan lancar hingga selesai sesuai target,” ujarnya.
Untuk memastikan pengendalian mutu dan koordinasi proyek berjalan efektif, Hutama Karya menerapkan Building Information Modeling (BIM) sebagai bagian dari proses perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Sistem koordinasi dan pengelolaan data proyek dilakukan secara terstruktur melalui Common Data Environment (CDE) sehingga seluruh pemangku kepentingan dapat mengakses informasi proyek secara akurat, konsisten, dan terdokumentasi.
Dalam Kesempatan terpisah, Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Mardiansyah, menyampaikan kesiapan perusahaan dalam melaksanakan proyek ini. “Pembangunan rumah sakit merupakan pekerjaan yang membutuhkan pengendalian teknis yang presisi. Karena itu, Hutama Karya berkomitmen melaksanakan proyek ini dengan standar mutu yang tinggi serta penerapan aspek keselamatan kerja, kesehatan, keamanan, dan lingkungan secara konsisten,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Hutama Karya menerapkan standar QHSSE secara ketat, termasuk penerapan prinsip Zero Fatality sebagai bagian dari budaya keselamatan kerja perusahaan. “Kami memastikan seluruh tahapan pekerjaan dilakukan secara tertib, terencana, dan memenuhi aspek kualitas, keselamatan, serta ketepatan waktu sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat,” tutup Mardiansyah.