Hutama Karya Serahkan Kendaraan Pengangkut Sampah dan Tanam Mangrove di Pesisir Marunda

JAKARTA — PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) berkolaborasi dengan T.CARE menyelenggarakan program pemulihan kawasan pesisir "Satu Aksi untuk Pesisir" di Pantai Marunda, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, pada Sabtu (25/07). Kegiatan ini digelar dalam rangkaian peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 sekaligus sebagai dukungan Perseroan terhadap Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Kegiatan yang menerjunkan 73 karyawan Hutama Karya (Insan Hutama), dan turut dihadiri oleh  Kepala Unit Tanggung Jawab Sosial (TJSL) Hutama Karya, Dianita Saraswati.  

Para relawan ini mencakup aksi bersih pantai, penanaman mangrove, edukasi pengelolaan sampah kepada warga, serta penyerahan kendaraan operasional pengangkut sampah bagi bank sampah setempat. Program ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan yang menempatkan keterlibatan langsung karyawan sebagai salah satu indikator utamanya. Sementara itu, General Manager T.CARE, Nawir Sikki menyampaikan bahwa pemulihan kawasan pesisir hanya akan bertahan apabila kapasitas pengelolaan sampah di tingkat masyarakat ikut diperkuat.  

“Sejak 2019, T.CARE telah membangun kolaborasi dengan lebih dari 150 mitra dan melaksanakan lebih dari 200 program sosial dan lingkungan yang menjangkau puluhan ribu penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.”, jelasnya. 

Peringatan Hari Mangrove Sedunia setiap 26 Juli menjadi pengingat bahwa ekosistem mangrove merupakan pertahanan alami garis pantai sekaligus penyerap karbon yang efektif, namun termasuk ekosistem yang paling cepat terdegradasi. Kawasan pesisir merupakan penyangga ekosistem sekaligus ruang hidup bagi masyarakat, namun menghadapi tekanan pencemaran yang terus meningkat. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat sekitar 80 persen sampah laut berasal dari aktivitas di daratan, terutama kawasan permukiman dan perkotaan. Kondisi tersebut tercermin di Pantai Marunda yang menghadapi persoalan ganda — limbah domestik dari permukiman padat di sekitar pesisir, serta sampah kiriman dari muara sungai dan laut. Pada periode gelombang tinggi dan angin barat, tumpukan sampah di kawasan ini dapat bertambah hingga 700 kilogram dalam waktu singkat. 

Berangkat dari kondisi tersebut, Hutama Karya bersama T.CARE menghadirkan rangkaian kegiatan yang tidak berhenti pada aksi bersih pantai. Sampah yang terkumpul dipilah berdasarkan jenis material, ditimbang, lalu disalurkan ke Bank Sampah Rusunawa Marunda untuk diolah menjadi material bernilai ekonomis, sementara residu yang tidak dapat didaur ulang diangkut ke tempat penampungan sementara. Perseroan juga memasang papan edukasi lingkungan dan tempat sampah terpilah di titik-titik strategis kawasan pesisir, menanam ±100 bibit mangrove dan pohon pesisir untuk memperkuat perlindungan garis pantai, serta melakukan edukasi langsung dari rumah ke rumah kepada warga sekitar. 

Sepanjang kegiatan, relawan bersama masyarakat berhasil mengumpulkan dan mengelola 30 kg sampah anorganik, 50 kg sampah organik, dan 75 kg sampar residu, sementara 130 warga terlibat dalam sesi edukasi pengelolaan sampah. Antusiasme terlihat dari para relawan yang mengikuti kegiatan sejak pagi hari. 

"Saya sehari-hari bekerja di balik meja, jadi baru hari ini melihat sendiri seberapa besar persoalan sampah di pantai ini. Pulang dari sini saya jadi lebih serius memilah sampah di rumah." Ujar Arry Ariadi (50). 

Pada kesempatan terpisah, Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, mengatakan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan pembangunan berkelanjutan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur tidak berhenti pada peningkatan konektivitas, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. 

“Keberlanjutan lingkungan tidak bisa diwujudkan oleh satu pihak saja. Karena itu kami tidak berhenti pada aksi bersih pantai, tetapi menyerahkan sarana operasional agar pengelolaan sampah di Marunda tetap berjalan setelah kegiatan ini selesai. Yang ingin kami tinggalkan bukan dokumentasi, melainkan sistem yang bisa terus bekerja. Ini juga menjadi kontribusi kami sebagai BUMN dalam mendukung Gerakan Indonesia ASRI, yang menempatkan kebersihan lingkungan sebagai budaya, bukan kegiatan seremonial,” ujar Hamdani.  

Program ini merupakan kelanjutan dari HK HabitSphere, program keterlibatan karyawan Hutama Karya di bidang sosial dan lingkungan pada periode sebelumnya. Bagi Perseroan, keterlibatan langsung karyawan bukan sekadar pemenuhan indikator kinerja TJSL, melainkan ruang internalisasi nilai AKHLAK melalui aksi nyata di luar aktivitas pekerjaan sehari-hari. 

Bagi Hutama Karya, membangun tidak berhenti pada bentangan jalan dan struktur beton, melainkan pada ruang hidup yang ditinggalkan bagi mereka yang menempatinya. Melalui “Satu Aksi untuk Pesisir”, Perseroan menegaskan bahwa garis pantai yang bersih dan ekosistem mangrove yang pulih adalah bagian dari infrastruktur yang sama pentingnya untuk diwariskan kepada generasi mendatang.