4 TAHUN KERING, HUTAMA KARYA BAWA AIR KEMBALI KE SALURAN IRIGASI BEO TALAUD UNTUK SEJAHTERAKAN PETANI

TALAUD -  Proyek peningkatan dan rehabilitasi jaringan irigasi di Daerah Irigasi (D.I.) Beo, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara, yang dikerjakan PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) dan diinisiasi oleh Kementerian Pekerjaan Umum, kini telah berfungsi optimal dan mengalirkan air kembali ke lahan pertanian setelah lebih dari 4 tahun tidak aktif. Proyek ini merupakan salah satu dari 28 titik daerah irigasi dalam program Peningkatan dan Rehabilitasi Jaringan Utama Kewenangan Daerah di BWS Sulawesi I (Inpres Tahap III) yang tersebar di 9 kabupaten/kota se-Sulawesi Utara.

Di Kabupaten Kepulauan Talaud, hanya terdapat satu titik yang ditangani, yaitu D.I. Beo, yang menjadi salah satu daerah irigasi strategis pada tahap III ini. Lingkup pekerjaan mencakup rehabilitasi saluran irigasi dengan peningkatan konstruksi dari lingkup pekerjaan mencakup rehabilitasi saluran irigasi dengan peningkatan konstruksi dari lining beton yang tipis menjadi pasangan batu yang lebih kokoh, serta normalisasi saluran sepanjang lebih dari 3 km dari hulu bendung hingga ke hilir.

Proyek ini dibangun untuk menjawab keterbatasan ketersediaan air yang berdampak pada rendahnya produktivitas pertanian di Talaud. Sektor pertanian dan perkebunan menyumbang sekitar 46% terhadap perekonomian daerah, sehingga irigasi yang andal menjadi sangat krusial. Dengan rehabilitasi ini, lahan yang sebelumnya tidak produktif atau hanya ditanami terbatas
kini dapat dioptimalkan kembali, meningkatkan hasil panen dan pendapatan petani.

Manfaat proyek ini tidak hanya pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan daerah. Lahan yang sebelumnya mati kini kembali produktif, dan petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada musim hujan. Penerima manfaat utama adalah masyarakat tani di kawasan D.I. Beo, Kabupaten Kepulauan Talaud, yang sangat bergantung pada sektor pertanian. Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) menjadi ujung tombak dalam pengelolaan dan pemeliharaan harian, bekerja sama dengan dinas teknis dan pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan sistem irigasi.

Proyek ini juga menghadapi tantangan signifikan selama pelaksanaan, mulai dari akses jalan yang berat dan tidak terawat, cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi pada Desember, hingga logistik material yang harus didatangkan dari Manado menggunakan kapal. Untuk mengatasinya, Hutama Karya menyiapkan alat berat standby di jalur akses, membuat camp kerja di dalam hutan, dan melakukan normalisasi saluran secara bertahap.

Hutama Karya melibatkan masyarakat lokal sejak awal pelaksanaan sehingga mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat tetapi juga merasa memiliki terhadap infrastruktur ini. Hal ini sangat penting untuk keberlanjutan proyek jangka panjang. Dampak nyata proyek ini terlihat dari peningkatan luas lahan tanam, penurunan risiko gagal panen, dan kenaikan pendapatan keluarga petani. Lahan yang sebelumnya mati kini aktif ditanam, dan petani lebih
percaya diri meningkatkan produktivitas karena ketersediaan air yang terjamin. 

Proyek irigasi D.I. Beo ini juga merupakan bagian dari upaya fokus pembangunan di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal). Kepulauan Talaud merupakan salah satu dari 18 pulau prioritas yang dibangun pemerintah sebagai daerah terluar yang berbatasan langsung dengan Filipina. Dengan adanya proyek ini, Hutama Karya menunjukkan komitmennya dalam pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional di kawasan strategis perbatasan. 

Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani menyampaikan, dengan rampungnya rehabilitasi irigasi ini, masyarakat Talaud merasakan manfaat nyata mulai dari ketersediaan air yang lebih stabil, peningkatan hasil panen, penguatan ketahanan pangan keluarga, hingga perputaran ekonomi di tingkat desa yang lebih hidup. Proyek ini juga selaras dengan program kerja Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menempatkan ketahanan dan kemandirian pangan sebagai prioritas nasional untuk mencapai kedaulatan pangan Indonesia. 

“Saluran irigasi D.I. Beo yang sebelumnya mati dan tidak berfungsi selama lebih dari 4 tahun kini kembali mengalirkan air secara normal. Petani yang tadinya sangat bergantung pada curah hujan kini dapat menanam lebih pasti dengan intensitas tanam yang meningkat. D.I. Beo adalah wujud komitmen Hutama Karya dalam mendukung ketahanan pangan nasional sesuai arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto untuk membangun kemandirian pangan Indonesia, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani di wilayah kepulauan dan
perbatasan seperti Talaud,” tutup Hamdani.