Hutama Karya Dukung Lahirnya Inovator Konstruksi Masa Depan di International BIM Innovation Contest Undip 2026

SEMARANG — PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) ambil bagian sebagai juri dan mitra industri dalam International BIM Innovation Contest (IBIC), puncak dari rangkaian The 14th Civil Engineering Innovation Contest (CEIC) Universitas Diponegoro, yang babak finalnya digelar pada Jumat (22/5) di Gedung Dekanat Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Semarang. Keterlibatan ini menegaskan komitmen perusahaan mendorong transformasi digital dan konstruksi berkelanjutan (sustainable construction) melalui penerapan Building Information Modeling (BIM) di kalangan talenta konstruksi masa depan.

Mengusung tema "Optimizing BIM to Achieve Net Zero Emission Goals: Designing Sustainable Public Buildings for Community Impact", kompetisi ini menantang mahasiswa merancang bangunan publik yang efisien dan ramah lingkungan dengan memanfaatkan BIM secara optimal. IBIC merupakan hasil kolaborasi Hutama Karya dengan Universitas Diponegoro yang prosesnya telah berjalan sejak Januari 2026, dan terbuka bagi mahasiswa dari perguruan tinggi, institut, serta politeknik tingkat nasional maupun internasional.

Pada babak final, lima tim terbaik mempresentasikan karyanya secara langsung di hadapan dewan juri, setelah sebelumnya menyelesaikan tahap pengumpulan materi teknis pada awal April 2026. Tim Gladiator_Gentaga dari Politeknik Pekerjaan Umum keluar sebagai juara pertama dengan nilai 89,6, disusul tim KAR'23 dari Politeknik Pekerjaan Umum di posisi kedua, dan Excelsior Civils dari Politeknik Astra di posisi ketiga.

Penilaian dilakukan oleh tiga juri lintas akademisi dan praktisi industri, yaitu Dosen Universitas Diponegoro, Riqi Radian Khasani, S.T., M.T., Ph.D; Technical Customer Support Manager Trimble Solutions Indonesia, Teten Iskandar ; dan Manager BIM Operasi Divisi Infrastruktur II Hutama Karya, Ir. Robby Kurniawan, S.T., M.B.A. Dewan juri menilai sejumlah aspek, mulai dari kualitas presentasi, penguasaan teknis BIM, kualitas model, kreativitas media penyampaian melalui video dan poster, hingga kemampuan peserta menunjukkan kontribusi BIM terhadap pencapaian triple constraint proyek — biaya, mutu, dan waktu — serta target net zero emission.

“Kami melihat antusiasme dan kualitas inovasi para finalis yang sangat menggembirakan. Penguasaan BIM yang dipadukan dengan kesadaran terhadap target nol emisi inilah yang dibutuhkan industri konstruksi ke depan. Kolaborasi dengan dunia akademik seperti ini menjadi jembatan penting untuk menyiapkan talenta yang siap menjawab tantangan pembangunan berkelanjutan,” ujar Manager BIM Operasi Divisi Infrastruktur II Hutama Karya, Robby Kurniawan.

Bagi Hutama Karya, keterlibatan dalam ajang ini bukan sekadar peran penjurian, melainkan bagian dari strategi memperkuat kolaborasi industri–akademisi sekaligus mendukung pengembangan talenta konstruksi masa depan. Melalui BIM, perusahaan mendorong proses pembangunan yang lebih efisien, terukur, dan berorientasi pada nilai (project value), seraya menyelaraskan praktik konstruksi nasional dengan agenda keberlanjutan global.

Pada kesempatan terpisah, Plt. Executive Vice President (EVP) Hutama Karya, Hamdani mengatakan inovasi yang lahir dari ruang kompetisi seperti ini adalah investasi bagi masa depan industri konstruksi Indonesia. “Hutama Karya berkomitmen terus hadir mendampingi generasi muda agar transformasi digital dan konstruksi berkelanjutan menjadi sebuah budaya.” ujarnya. 
Melalui partisipasi ini, Hutama Karya berharap dapat terus memperkuat ekosistem inovasi konstruksi nasional, mempererat sinergi dengan dunia pendidikan, serta mendorong lahirnya solusi pembangunan yang efisien, bernilai, dan berkontribusi nyata bagi pencapaian target net zero emission.